Minggu, 24 November 2013

Bindo


MANFAAT KARYA ILMIAH
Tugas ini di susun untuk memenuhi mata kuliah bahasa indonesia semester genap
Dosen Pengampu : Isriani Hardini
http://buku-on-line.com/wp-content/uploads/2012/04/Logo-STAIN-Pekalongan.gif
Disusun Oleh :
Liya Nadhifah             (20221120)
Fitriyanti                     (20221120)
Nadia Mas’udah         (20221120)
Muhammad Zuhdi      (20221120)
Slamet Muzakki          (2022112015)
Elsa Mulyani               (2022112018)
Imro’atun Khasanah   (2022112019)
Nur Afifah                  (2022112020)
Frinka Azira Riska      (20221120)

KELAS PBA A
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB
STAIN PEKALONGAN
2013


KATA  PENGANTAR


Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Manfaat Karya Ilmiah”.
Dalam penyelesaian makalah ini,penulis banyak mendapat bimbingan, pengarahan, bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1.      Ibu Isriani Hardini selaku dosen pengampu
2.      Semua teman-teman yang telah membantu dan memotivasi dalam penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu,segala kritik dan saran yang membangun dari pembaca akan penulis terima dengan senang hati,agar di lain kesempatan penulis dapat membuat makalah yang lebih baik.
Penulis berharap semoga makalah ini dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan kita.
Pekalongan,

                                                                                    Penulis






DAFTAR ISI




BAB I 

PENDAHULUAN

 

A.Latar belakang

Di era sekarang ini, penting bagi kita untuk mengetahui penulisan karya ilmiah yang benar. Terutama bagi mahasiswa merupakan bekal yang sangat penting, karena pada setiap tugas, dosen akan memberikan tugas makalah dan tentunya apabila mahasiswa itu tidak memahami penulisan karya ilmiah yang benar maka bisa jadi akan mempersulit dalam pengerjaan tugas makalah tersebut.

Mungkin bagi sebagian mahasiswa, ini hal yang sangat mudah dan sepele namun jika masalah ini disepelekan maka akan menjadi hal yang sangat sulit. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan membahas tentang penulisan karya ilmiah yang benar.

B. Rumusan masalah

1.      Apa pengertian dari karya ilmiah ?
2.      Bagaimana manfaat karya ilmiah ?
3.      Bagaimana sistematika penulisan karya ilmiah ?
4.      Apa perbedaan karya ilmiah dan karya non ilmiah ?

C. Tujuan

1.      Dapat mendefinisikan pengertian karya ilmiah.
2.      Dapat memahami manfaat karya ilmiah.
3.      Memudahkan dalam mengetahui sistematika penulisan karya ilmiah.
4.      Dapat mengkaji dengan baik mengenai karya ilmiah dan karya non ilmiah.

BAB II

PEMBAHASAN


A .Definisi Karya Ilmiah

Karya ilmiah (bahasa Inggrisscientific paper) adalah laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.[1]
Karya Ilmiah atau tulisan ilmiah adalah karya seorang ilmuwan (yang berupa hasil pengembangan) yang ingin mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang diperoleh melalui kepustakaan, kumpulan pengalaman, dan pengetahuan orang lain sebelumnya.[2]
Brotowijaya (1985:8-9) menyatakan bahwa karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta-fakta yang ditulis menurut metodologi penulisan secara baik dan benar. Karya ilmiah harus ditulis secara jujur apa adanya dan akurat sesuai dengan kebenaran tanpa melihat akibat yang ditimbulkan.[3]
Menurut Indriati (2002 : 103-104), jenis karya ilmiah dibedakan menjadi:
  1. Laporan penelitian
Yaitu laporan yang ditulis berdasarkan penelitian, misalnya laporan penelitian yang didanai oleh fakultas dan universitas, laporan ekskavasi arkeologi yang dibiayai oleh departemen kebudayaan.
  1. Skripsi
Yaitu tulisan ilmiah untuk mendapatkan gelar akademik sarjana strata satu (S1).
  1. Tesis
Yaitu tulisan ilmiah untuk mendapatkan gelar akademik strata dua (S2) yaitu master atau magister
  1. Disertasi
Yaitu tulisan ilmiah untuk mendapatkan gelar akademik strata tiga atau (S3) yaitu doctor.
  1. Surat pembaca
Yaitu surat yang berisi kritik dan tanggapan terhadap isi suatu tulisan ilmiah.
  1. Laporan kasus
Yaitu tulisan mengenai kasus-kasus yang ada yang dilandasi dengan teori.
  1. Laporan tinjau
Yaitu tulisan yang berisi tinjauan karya-karya ilmiah dalam kurun waktu tertentu, missal: biological, antropologi, in the Americas: 1900-2000
  1. Resensi
Yaitu tanggapan terhadap suatu karangan atau buku yang memaparkan manfaat karangan atau buku tersebut bagi pembaca.
  1. Monograf
Yaitu karya asli menyeluruh dari suatu masalah. Monograf ini dapat berupa tesis ataupun disertasi.
  1. Referat
Yaitu tinjauan mengenai karangan sendiri dan karangan orang lain.
  1. Kabilitasi
Yaitu karangan-karangan penting yang dikerjakan sarjana departemen pendidikan nasional untuk bahan kuliah.[4]

B. Manfaat Karya Ilmiah

Menurut sikumbang (1981), manfaat penyusunan karya ilmiah bagi penulis adalah berikut:
·       Melatih untuk mengembangkan keterampilan membaca yang efektif;
·       Melatih untuk menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber;
·       Mengenalkan dengan kegiatan kepustakaan;
·       Meningkatkan pengorganisasian fakta/data secara jelas dan sistematis;
·       Memperoleh kepuasan intelektual;
·       Memperluas cakrawala ilmu pengetahuan;
·       Sebagai bahan acuan/penelitian pendahuluan untuk penelitian selanjutnya

C. Sistematika Penulisan Karya Ilmiah

Bagian Pembuka

·       Cover
·       Halaman judul.
·       Halaman pengesahan.
·       Abstraksi
·       Kata pengantar.
·       Daftar isi.
·       Ringkasan isi.

Bagian Isi

Pendahuluan

·       Latar belakang masalah.
·       Perumusan masalah.
·       Pembahasan/pembatasan masalah.
·       Tujuan penelitian.
·       Manfaat penelitian.

Kajian teori atau tinjauan kepustakaan

·       Pembahasan teori
·       Kerangka pemikiran dan argumentasi keilmuan
·       Pengajuan hipotesis

Metodologi penelitian

·       Waktu dan tempat penelitian.
·       Metode dan rancangan penelitian
·       Populasi dan sampel.
·       Instrumen penelitian.
·       Pengumpulan data dan analisis data.

Hasil Penelitian

·       Jabaran varibel penelitian.
·       Hasil penelitian.
·       Pengajuan hipotesis.
·       Diskusi penelitian, mengungkapkan pandangan teoritis tentang hasil yang didapatnya.[5]

D.      Perbedaan Karya Ilmiah, Semi Ilmiah dan Non Ilmiah

A.  Karya Ilmiah
Karakteristik Karya ilmiah
·    Sistematis, segala yang dikemukakan disusun dalam urutan yang memperlihatkan adanya kesinambungan.
·         Objektif, segala keterangan yang dikemukakan menurut apa adanya.
·    Lengkap, segi-segi masalah yang diungkapkan itu dikupas selengkap-lengkapnya
·         Lugas, pembicaraan langsung kepada hal pokok
·    Saksama, berusaha menghindarkan diri dari segala kesalahan betapa pun kecilnya.
·    Jelas, segala keterangan yang dikemukakan dapat mengungkapkan maksud secara jernih.
·    Kebenarannya dapat diuji (empiris).
·    Terbuka, konsep atau pandangan keilmuan dapat berubah seandainya muncul pendapat baru.
·    Berlaku umum, semua simpulan-simpulannya berlaku bagi semua populasinya.
·    Penyajian menggunakan ragam bahasa ilmiah dan bahasa tulis yang lazim
·    Tuntas, segi masalah dikupas secara mendalam dan selengkap-lengkapnya.[6]
Persyaratan sebuah tulisan dianggap sebagai karya ilmiah sebagai berikut (Brotowidjojo, 1988 : 15-16) :
a.       Menyajikan fakta objektif secara sistematis.
b.      Aplikasi hukum alam pada situasi spesifik.
c.       Ditulis secara cermat, tepat, benar, jujur, dan tidak tidak bersifat terkaan.
d.      Disusun secara sistematis, direncanakan secara terkendali, konseptual dan prosedural.
e.       Menyajikan rangkaian sebab-akibat dengan pemahaman dan alasan yang induktif yang mendorong pembaca untuk menarik kesimpulan.
f.       Mengandung pandangan yang disertai dukungan dan pembuktian berdasarkan suatu hipotesis.
g.      Ditulis secara tulus, tidak boleh memanipulasi fakta dan tidak boleh bersifat emotif.
h.      Bersifat ekspositoris.[7]
Asas-asas menulis karya ilmiah
1.      Kejelasan (clarity)
2.      Ketepatan (accuracy)
3.       Keringkasan (brevity)[8]

B.   Karya Non Ilmiah
Karangan non ilmiah sangat bervariasi topic dan cara penyajiannya, tetapi isinya tidak didukung fakta umum, ditulis berdasarkan fakta pribadi, umumnya bersifat subyektif, gaya bahasanya bias konkret atau abstrak, gaya bahasanya formal dan popular.
Karangan non ilmiah bersifat:
1.    Emotif : kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi.
2.    Persuasif: penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative.
3.    Deskriptif : pendapat pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif.
4.    Kritik tanpa dukungan bukti.[9]
C.   Karya semi Ilmiah
Finoza (2005:193) menyebutkan bahwa karakteristik yang membedakan antara karangan semi-ilmiah, ilmiah, dan nonilmiah adalah pada pemakaian bahasa, struktur, dan kodifikasi karangan. Jika dalam karangan ilmiah digunakan bahasa yang khusus dalam di bidang ilmu tertentu, dalam karangan semi-ilmiah bahasa yang terlalu teknis tersebut sedapat mungkin dihindari.
Dengan kata lain, karangan semi-ilmiah lebih mengutamakan pemakaian istilah-istilah umum daripada istilah-istilah khusus. Jika diperhatikan dari segi sistematika penulisan, karangan ilmiah menaati kaidah konvensi penulisan dengan kodifikasi secara ketat dan sistematis, sedangkan karangan semi-ilmiah agak longgar meskipun tetap sistematis. Dari segi bentuk, karangan ilmiah memiliki pendahuluan (preliminaris) yang tidak selalu terdapat pada karangan semi-ilmiah.
Berdasarkan karakteristik karangan ilmiah, semi-ilmiah, dan nonilmiah yang telah disebutkan di atas, yang tergolong dalam karangan ilmiah adalah laporan, makalah, skripsi, tesis, disertasi; yang tergolong karangan semi-ilmiah antara lain artikel, feature, kritik, esai, resensi; yang tergolong karangan nonilmiah adalah anekdot, dongeng, hikayat, cerpen, cerber, novel, roman, puisi, dan naskah.[10]
Perbedaan-perbedaan yang dimaksud dapat dicermati dari beberapa aspek. Pertama, karya ilmiah harus merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif). Faktual objektif adalah adanya kesesuaian antara fakta dan objek yang diteliti. Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan atau empiris.
Kedua, karya ilmiah bersifat metodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah digunakan metode atau cara-cara tertentu dengan langkah-langkah yang teratur dan terkontrol melalui proses pengidentifikasian masalah dan penentuan strategi.
Ketiga, dalam pembahasannya, tulisan ilmiah menggunakan ragam bahasa ilmiah. Dengan kata lain, ia ditulis dengan menggunakan kode etik penulisan karya ilmiah. Perbedaan-perbedaan inilah yang dijadikan dasar para ahli bahasa dalam melakukan pengklasifikasian.[11]

BAB III

PENUTUP


A.     Kesimpulan


Pengetahuan mengenai penulisan karya ilmiah yang benar sangatlah penting, terutama bagi mahasiswa karena dapat membantu dalam proses perkuliahannya seperti dalam pengerjaan tugas makalah. Selain itu juga, pengetahuan ini dapat digunakan dalam dunia kerja dan bisnis.

B.     Saran

            Dengan adanya makalah mengenai penulisan karya ilmiah ini,memungkinkan bagi kita untuk lebih memudahkan mengetahui bagaimana cara penulisan karya ilmiah yang sesuai dengan metode penulisannya berdasarkan panduan yang baik dan benar.


DAFTAR PUSTAKA


Ahmad Fali Oklilas. 2012. “Teknik Penulisan Karya Ilmiah Program Studi Komputer”. (http://www.fali.unsri.ac.id/index.php/menu/42, diakses 27 Maret 2013).
Alek dan Achmad H.P. 2011. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta : Kencana
Karyanto, Umum Budi. 2012. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta : STAIN Pekalongan Press.
Rahardi, Kunjana. 2010. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta : Penerbit Erlangga.
T-Blog. 2012.” Perbedaan Karya Ilmiah, Karya Non Ilmiah, dan Karya Semi Ilmiah”. (http://tita-online.blogspot.com/2012/03/perbedaan-karya-ilmiah-karya-non-ilmiah.html, diakses 27 Maret 2013).
Wikipedia. 2013. “Karya Ilmiah”. (http://id.wikipedia.org/wiki/Karya_ilmiah, diakses 27 Maret 2013).


[1] Wikipedia, Karya Ilmiah (http://id.wikipedia.org/wiki/Karya_ilmiah) diakses pada tanggal 27 Maret 2013
[2] Ahmad Fali oklilas, Teknik Penulisan Karya Ilmiah
Program Studi Teknik Komputer
(http://www.fali.unsri.ac.id/index.php/menu/42) diakses pada tanggal 27 Maret 2013
[3] Umum Budi Karyanto, Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, (Jakarta : STAIN Pekalongan Press, 2012)
[4] Ibid, hlm.100-101
[5] Wikipedia, Karya Ilmiah (http://id.wikipedia.org/wiki/Karya_ilmiah) diakses pada tanggal 27 Maret 2013
[6]Alek dan Achmad H.P, Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi (Jakarta: Kencana, 2011), hlm.168

[7]Ibid, hlm.173-174
[8] Kunjana Rahardi, Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, (Jakarta : Penerbit Erlangga,2010), hlm.144-145
[9]T-Blog, “Perbedaan Karya Ilmiah, Karya Non Ilmiah, dan Karya Semi Ilmiah”, 31 Maret 2012 ( http://tita-online.blogspot.com/2012/03/perbedaan-karya-ilmiah-karya-non-ilmiah.html) diakses pada tanggal 27 Maret 2013
[10]Alek dan Achmad H.P, op.cit., hlm.166-167 .
[11] T-Blog, “Perbedaan Karya Ilmiah, Karya Non Ilmiah, dan Karya Semi Ilmiah”, 31 Maret 2012 ( http://tita-online.blogspot.com/2012/03/perbedaan-karya-ilmiah-karya-non-ilmiah.html) diakses pada tanggal 27 Maret 2013

Psikologi

MAKALAH
PENGANTAR PSIKOLOGI
INTELEGENSI
DOSEN PENGAMPU : NADHIFATUZ  ZULFA, M.Pd
   









Disusun oleh :
1. Syahrul Adul Ghani 2022112017
2. Elsa Mulyani 2022112018
3. Imroatun Khasanah 2022112019
4. Nur Afifah 2022112020

PENDIDIKAN BAHASA ARAB
KELAS A


STAIN PEKALONGAN TAHUN  2012 

KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan segala rahmat dan hidayah-Nya. Sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah yang berjudul “ Pengantar Psikologi “Intelegensi”. Tak lupa penulis limpahkan shalawat dan salam kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang kita nantikan syafaatnya di hari kiamat nanti.
 Pada kesempatan kali ini,penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini :
1. Ibu Nadzifatuz Zulfa,M.Pd selaku dosen pengampu pengantar psikologi
2. Teman-teman semua atas bantuan dan motivasinya
Semoga Allah SWT membalas kebaikan semua pihak yang telah membantu hingga selesainya penulisan makalah ini.
 Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari kesempurnaan,dari segi bahasa, sistematika apalagi isinya. Oleh karena itu penulis dengan hati yang lapang menerima saran dan kritikan yang sifatnya membangun.
 Akhirnya, penulis berharap semoga makalah ini akan memberikan manfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya.

 Pekalongan, September 2012


 PENULIS

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
BAB I PENDAHULUAN 4
BAB II PEMBAHASAN 5
A. PENGANTAR 5
B. DEFINISI INTELEGENSI 5
C. TEORI-TEORI INTELEGENSI 6
D. JENIS-JENIS KECERDASAN 9
BAB III PENUTUP 13
A. KESIMPULAN 13
B. SARAN 13
DAFTAR PUSTAKA 14


BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGANTAR
 Faktor yang menentukan cepat atau lambat individu memecahkan masalah adalah faktor intelegensi dari individu yang bersangkutan. Intelegensi biasanya dikaitkan dengan kemampuan untuk pemecahan masalah, kemampuan otak belajar, ataupun kemampuan untuk berpikir abstrak.
 Intelegensi berasal dari kata latin intelligere yang berarti mengorganisasikan, mmenghubungkan atau menyatukan satu dengan yang lain (to organize, to relate, to bind together). Menurut para ahli intelegensi mengandung bermacam-macam kemampuan bukan kemampuan tunggal.
B. DEFINISI INTELEGENSI
 Andrew Crider mengatakan bahwa intelegensi itu bagaikan listrik, gampang untuk diukur tapi hampir mustahil untuk didefinisikan.
 Alfred Binet bersama Theodore Simon mendefinisikan intelegensi terdiri atas 3 komponen, yaitu :
a. Kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau mengarahkan tindakan
b. Kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan.
c. Kemampuan untuk mengkritik diri sendiri dan melakukan autiocriticism.
 V.A.C. Henmon mengatakan bahwa intelegensi terdiri dari dua macam faktor yaitu :
a. Kemampuan untuk memperoleh pengetahuan
b. Pengetahuan yang telah diperoleh
 Definisi ini bersesuaian maksudnya dengan definisi yang pernah diusulkan oleh Baldwin yang mengatakan intelegensi sebagai daya atau kemampuan untuk memahami. Edward Lee Thorndike mengatakan bahwa intelegensi adalah kemampuan dalam memberikan respon yang baik dari pandangan kebenaran atau fakta.
 George D. Stoddard menyebut intelegensi sebagai bentuk kemampuan untuk memahami maslah-masalah yang bercirikan :
a. Mengandung kesukaran
b. Kompleks, mengandung bermacam jenis tugas yang harus dapat diatasi dengan baik dalam arti bahwa individu yang intelegen mampu menyerap kemampuan baru yang memadukannya dengan kemampuan yang sudah dimiliki untuk kemudian digunakan dalam menghadapi masalah.
c. Abstrak, yaitu mengandung simbol-simbol yang memerlukan analisis dan interpretasi.
d. Ekonomis, yaitu dapat diselesaikan dengan menggunakan proses yang efisien dari segi penggunaan waktu
e. Diarahkan pada suatu tujuan, yaitu bukan dilakukan tanpa maksud melainkan mengikuti suatu arah atau target yang jelas
f. Mempunyai nilai sosial, yaitu cara dan hasil pemecahan masalah dapat diterima oleh nilai dan norma sosial
g. Berasal dari sumbernya, yaitu pola pikir yang membangkitkan kreativitas untuk menciptakan sesuatu yang baru dan lain.
  David Wechsler mendefinisikan intelegensi sebagai kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berfikir secara rasional, serta menghadapi lingkungannya secara efektif.
  Walters dan Gardner mendefinisikan intelegensi sebagai suatu kemampuan yang memungkinkan individu memecahkan masalah atau produk sebagai konsekuensi eksistensi suatu budaya tertentu. Flynn mendefinisikan intelegensi sebagai kemampuan untuk berfikir secara abstrak dan kesiapan untuk belajar dari pengalaman.
C. TEORI-TEORI INTELEGENSI
 Menurut sudut pandang mengenai faktor-faktor yang menjadi elemen inteligensi, maka teori-teori inteligensi dapat digolongkan dalam tiga golongan. Penggolongan pertama adalah teori-teori yang berorientasi pada faktor tunggal, yang  kedua adalah teori-teori yang berorientasi pada dua faktor, dan yang ketiga adalah teori yang berorientasi pada faktor ganda. Walaupun demikian, uraian ringkas mengenai teori-teori inteligensi berikut tidak akan mengutamakan pengelompokkan tersebut. Mengenai faktor-faktor apa yang terdapat dalam intelegensi, diantara para ahli belum terdapat pendapat yang bulat.
 Seperti yang dikemukakan Thorndike dengan teori multi faktornya, yaitu bahwa intelegensi tersusun dari beberapa faktor, dan faktor-faktor itu terdiri dari elemen-elemen, dan tiap-tiap elemen terdiri dari atom-atom, dan tiap-tiap atom merupakan hubungan stimulus–respon. Jadi, suatu aktivitas yang menyangkut intelegensi adalah kumpulan dari atom-atom aktivitas yang berkombinasi satu dengan yang lainnya.
 Menurut Alfred Binet bahwa intelegensi besifat monogenetik ,yaitu berkembang dari satu faktor satuan atau faktor umum [g]
 Menurut Binet, intelegensi meupakan sisi tunggal dari karakteristik yang terus berkembang sejalan dengan proses kematangan seseorang. Jadi, untuk melihat kemampuan intelegen seseorang dapat diamati dari cara dan kemampuannya untuk melakukan suatu tindakan dan mengubah arah tindakannya itu apabila perlu.
 Menurut Edward Lee Thorndike, intelegensi terdiri dari berbagai kemampuan spesifik yang ditampakkan dalam  wujud perilaku intelegen. Teorinya termasuk ke dalam teori intelegensi faktor ganda. Ia mengklasifikasikan intelegensi ke dalm tiga bentuk kemampuan, yaitu :
a. Kemampuan abstraksi yaitu suatu kemampuan untuk bekerja dengan menggunakan gagasan dan simbol-simbol.
b. Kemampuan mekanik yaitu suatu kemampuan untuk bekerja dengan menggunakan alat-alat mekanis dan kemampuan untuk melakukan pekerjaan yang memerlukan aktivitas indra-gerak (sensory-motor)
c. Kemampuan sosial yaitu suatu kemampuan untuk menghadapi orang lain di sekitar diri sendiri dengan cara-cara yang efektif.
 Definisi Charles E. Spearman mengandung dua komponen kualitatif yang penting, yaitu :
a. Eduksi relasi – eduction of relation
Eduksi relasi adalah kemampuan untuk menemukan suatu hubungan dasar yang berlaku di antara dua hal. Misalnya dalam menentukan hubungan yang terdapat diantara dua kata “panjang-pendek”.
b. Eduksi korelasi – eduction of collerates
Eduksi korelasi adalah kemampuan untuk menerapkan hubungan dasar yang telah ditemukan dalam proses eduksi relasi sebelumnya ke dalam situasi baru. Misalnya, bila telah diketahui bahwa hubungan antara “panjang” dan “pendek” merupakan hubungan lawan arti.
Menurut Spearman intelegensi mengandung dua macam faktor, yaitu :
1. General ability (general factor/faktor G) yang terdapat pada semua individu tetapi berbeda satu dengan yang lain dan selalu didapati dalam setiap performance
2. Special ability (special factor/faktor S) merupakan faktor yang bersifat khusus yaitu mengenai bidang-bidang tertentu.
 Karenanya teori ini dikenal sebagai dwi-faktor (two-factor teory). Dengan demikian maka jumlah faktor S banyak, jadi kalau pada seseorang faktor S dalam bidang tertentu dominan, maka orang itu akan menonjol dalam bidang tersebut. Menurut Spearman setiap performance selalu ada faktor G dan faktor S, dirumuskan: P = G + S
 Tetapi karena faktor S bersifat khusus, maka apabila individu mengalami pesoalan yang berbeda-beda, maka faktor S-nya pun juga akan berbeda-beda. Jadi misalnya orang menghadapi 3 macam persoalan yang berbeda-beda, maka secara skematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
P1 = G + S1
P1 = G + S1
P1 = G + S1
 Menurut Morgan,dkk teori Spearman disebut juga teori faktor g (G-factor theory).
 Burt mempunyai pandangan yang berbeda, namun dekat dengan pandangan Spearman. Menurut Burt disamping general ability dan special ability masih terdapat faktor yang lain, yaitu common ability atau common  factor atau  disebut juga group factor. Common factor merupakan faktor sesuatu kelompok  kemampuan tertentu, misalnya common factor dalam hal bahasa, common factor dalam hal matematika. Dengan demikian menurut pandanga Burt dalam intelegensi ada 3 macam faktor, yaitu faktor G, faktor S, dan faktor C, dan faktor ini akan tampak dalam performance individu. Jadi performance individu dapat digambarkan zsebagai berikut
P1 = G + S1 + Cx Cx = misalnya common factor berhitung
P2 = G + S2 + Cx
P3 = G + S4 +Cy Cy = misalnya common factor bahasa
P4 = G + S4 + Cy
 Dengan demikian maka akan didapati bermacam-macam special factor dan juga bermacam-macam common factor sesuai dengan kelompo-kelompok persoalan yang dihadapi, di samping faktor G.
 Thurstone mempunyai pandangan yang berbeda lagi dengan para ahli yang telah dikemukakan di atas. Kalau menurut Thorndike intelegensi merupakan jumlah dari elemen-elemen, yaitu hubungan stimulus-respons, dan menurut Spearman bahwa intelegensi terutama ditentukan oleh faktor G dan faktor S, maka menurut Thurstone dalam intelegensi adanya faktor-faktor primer yaitu sebagai berikut :
1. S (special relation),yaitu kemampuan untuk melihat atau mempersepsi gambar dengan dua atau tiga dimensi, menyangkut jarak (spatial).
2. P (perceptual speed), yaitu kemampuan yang berkaitan dengan kecepatam dan ketepatan dalam memberikan judging mengenai persamaan dan perbedaan atau dalam respon terhadap apa yang dilihatnya secara detail.
3. V (verbal comprehension), yaitu kemampuan yang menyangkut pemahaman kosakata (vocabulary), analogi secara verbal, dan sejenisnya.
4. W (word fluency), yaitu kemampuan yang menyangkut dengan kecepatan yang berkaitan dengan kata-kata, dengan anagram, dan sebagainya.
5. N (number facility), yaitu kemampuan yang berkaitan dengan kecapatan dan ketepatan dalam berhitung (komputasi)
6.  M (associative memory), yaitu kemampuan yang berkaitan dengan ingatan, khususnya yang berpasangan
7. I (induction) yaitu kemampuan yang berkaitan dengan kemampuan untuk memperoleh prinsip atau hukum.
 Di samping itu Thurstone mengemukakan lagi dua primary mental abilities,seperti yang dikemukakan oleh Harriman.
     Menurut thurstone faktor-faktor tersebut berkombinasi satu dengan yang lainnya hingga menghasilkan tindakan atau perbuatan yang inteligen. Teori Thurstone ini menurut Morgan, dkk. (1984) disebut sebagai teori kelompok faktor(group-factor  theory).
     Teori Guilford (morgan, dkk. 1984) mengenai inteligensi dikenal dengan teori tiga dimensi (thrhee dimensional theory). Teori Guilford digambarkan dengan sebuah kubus, yang menggambarkan adanya 120 faktor dalam inteligensi. Tiap faktor dinyatakan dalam tiap sel dalam kubus dari kombinasi tiga dimensi tersebut,yaitu:
1) Dimensi operasi (operations),yang mengandung 5 macam aspek yaitu kognisi, ingatan, berfikir divergen production, berfikir konvergen (convergen production), dan evaluasi.
2) Dimensi produk (product), yang mengandung 6 aspek, yaitu unit, kelas hubungan, system, transformasi, dan implikasi
3) Dimensi isi (contents), mengandung 4 aspek, yaitu figur, simbolik, semantic, dan behavior. Jadi semua ada 5 x 6 x 4 =120.
Konsep Guilford pada dimensi operasi di antaranya mengandung pengertian mengenai apa yang di sebut sebagai berpikir divergen (divergent thinking) dan berpikir konvergen (convergent thinking). Berpikir divergen erat kaitannya denga berpikir kreatif atau original problem solving, yaitu adanya beberapa macam alternative atau kemungkinan jawaban terhadap pemecahan masalah, sedangkan berpikir konvergen adalah berkaitan dengan pemecahan masalah atau problem solving dengan jawaban tunggal yang tepat (single correct answer ).
     Cattel (morgan, dkk. 1984) berpendapat bahwa ada dua komponen dalam aktivitas intelektual, yaitu:
           a .       Fluid intelligence
    Fluid intelligence adalah berkaitan dengan kemampuan yang mencerminkan potensi inteligensi yang berindependen dari sosialisasi dan pendidikan.
b. Crystallized intelligence
Crystallized intelligence lebih mencerminkan aspek budaya termasuk pendidikan formal, yang dipadu dengan pengetahuan dan ketrampilan(skill).
 Menurut Cryil Burt, kemampuan mental terbagi atas beberapa faktor yang berada pada tingkatan-tingkatan yang berbeda, yaitu satu faktor Umum (general), faktor-faktor Kelompok Besar (broad group), faktor-faktor Kelompok Kecil (narrow group) dan faktor-faktor Spesifik (specific). 
 Menurut Philip Ewart Vernon, dibawah faktor G terdapat dua jenis kelompok kemampuan mental yaitu kemampuan verbal-educational dan practical-mechanical yang termasuk dalam faktor intelegensi yang utama atau kelompok mayor.
 Menurut Joy Paul Guilford, dengan teorinya mengenai stucture of intelect menyertakan kategorisasi perbedaan individual di berbagai faktor kemampuan mental dalam usahanya memahami dan menggambarkan proses-proses mental yang mendasari perbedaan individual tersebut.
D. JENIS-JENIS KECERDASAN
1. Kecerdasan Linguistik
 Kecerdasan dalam mengolah kata-kata secara efektif baik bicara ataupun menulis (jurnalis, penyair, pengacara). Ciri-cirinya :
• Dapat berargumentasi, meyakinkan orang lain, menghibur atau mengajar dengan efektif lewat kata-kata
• Gemar membaca dan dapat mengartikan bahasa tulisan dengan jelas
2. Kecerdasan Logis-matematis
 Kecerdasan dalam hal angka dan logika (ilmuwan, akuntan, programmer)
Ciri-ciri :
• Mudah membuat klasifikasi dan kategorisasi
• Berpikir dalam pola sebab akibat, menciptakan hipotesis
• Pandangan hidupnya bersifat rasional
3. Kecerdasan Visual-spasial
 Kecerdasan yang mencakup berpikir dalam gambar, serta mampu untuk menyerap, mengubah dan menciptakan kembali berbagai macam aspek visual (arsitek, fotografer, designer, pilot, insinyur). Ciri-cirinya :
• Kepekaan tajam untuk detail visual, keseimbangan, warna, garis, bentuk dan ruang
• Mudah memperkirakan jarak dan ruang
• Membuat sketsa ide dengan jelas
4. Kecerdasan Kinestetik-jasmani
 Kecerdasan menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresiakan gagasan dan perasaan (atlet, pengrajin, montir, menjahit, merakit model)
Ciri-ciri :
• Menikmati kegiatan fisik (olahraga)
• Cekatan dan tidak bias tinggal diam
• Berminat dengan segala sesuatu
5. Kecerdasan Musikal
 Kecerdasan untuk mengembangkan, mengekspresikan dan menikmati bentuk musik dan suara (konduktor, pencipta lagu, penyanyi dsb). Ciri-cirinya :
• Peka nada dan menyanyi lagu dengan tepat
• Dapat mengikuti irama
• Mendengar music dengan tingkat ketajaman lebih
6. Kecerdasan Interpersonal
 Kecerdasan untuk mengerti dan peka terhadap perasaan, intensi, motivasi, watak dan temperamen orang lain (networker, negotiator, guru). Ciri-cirinya :
• Menghadapi orang lain dengan penuh perhatian, terbuka
• Menjalin kontak mata dengan baik
• Menunjukan empati pada orang lain
• Mendorong orang lain menyampaikan kisahnya
7. Kecerdasan Intrapersonal
 Kecerdasan pengetahuan akan diri sendiri dan mampu bertidak secara adaptif berdasar pengenalan diri (konselor, teolog). Ciri-ciri :
• Membedakan berbagai macam emosi
• Mudah mengakses perasaan sendiri
• Menggunakan pemahamannya untuk memperkaya dan membimbing hidupnya
• Mawas diri dan suka meditasi
• Lebih suka kerja sendiri
8. Kecerdasan Naturalis
 Kecerdasan memahami dan menikmati alam dan menggunakanya secara produktif dan mengembangkam pengetahuan akan alam (petani, nelayan, pendaki, pemburu).
Ciri-ciri :
• Mencintai lingkungan
• Mampu mengenali sifat dan tingkah laku binatang
• Senang kegiatan di luar (alam)
9. Kecerdasan Eksistensial
 Kecerdasan untuk menjawab persoalan-persoalan terdalam eksistensi atau keberadaan manusia (filsuf, teolog,). Ciri-ciri :
• Mempertanyakan hakekat segala sesuatu
• Mempertanyakan keberadaan peran diri sendiri di alam/ dunia.


BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
B.  Intelegensi biasanya dikaitkan dengan kemampuan untuk pemecahan masalah, kemampuan otak belajar, ataupun kemampuan untuk berpikir abstrak. Beberapa ahli mempunyai pendapat masing-masing mengenai definisi inteligensi dan teori-teori inteligensi.
C.  Kecerdasan ada 9 macam yaitu :
a. Kecerdasan Linguistik
b. Kecerdasan Logis-matematis
c. Kecerdasan Visual-spasial
d. Kecerdasan Kinestetik-jasmani
e. Kecerdasan Musikal
f. Kecerdasan Interpersonal
g. Kecerdasan Intrapersonal
h. Kecerdasan Naturalis
i. Kecerdasan Eksistensial
B. SARAN

DAFTAR PUSTAKA
http://daengmatterru.blogspot.com/2012/04/9-jenis-kecerdasan-manusia.html
http://www.smartnewz.info/2011/11/mengetahui-9-jenis-kecerdasan-yang-di.html
http://idiesta.blogspot.com/2012/07/jenis-jenis-kecerdasan.html
Azwar, Saifuddin.,Pengantar Psikologi Inteligensi,Pustaka Pelajar:Yogyakarta, 1996
Walgito, Bimo.,Pengantar Psikologi Umum,C.V Andi Offset:Yogyakarta, 1981





Filsafat

FILSAFAT NABI MUSA DAN KHIDIR
Disusun Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Pengantar Filsafat
Dosen Pengampu : Dr. Imam Khanafie al-Jauhari, M.Ag

















NAMA : ELSA MULYANI
NIM : 2022112018
KELAS : A











STAIN PEKALONGAN TAHUN 2012
FILSAFAT NABI MUSA DAN KHIDIR

Kisah Nabi Musa dan Khidir a.s.
Allah Swt. tidak menurunkan al-Quran kecuali agar ia menjadi petunjuk
bagi orang-orang yang bertakwa serta obat penyakit hati mereka. Dalam
upaya mencapai petunjuk tersebut, ada beberapa cara yang ditempuh oleh
al-Quran. Ada kalanya melalui hukum, melalui akhlak, melalui keajaiban
dan bahkan ada kalanya melalui cerita.
Harus kita yakini bersama, bahwa kisah yang dituangkan dalam al-Quran
bukanlah kisah biasa. Ia adalah kisah terbaik yang di dalamnya
mengandung pelajaran, bagi orang-orang yang berfikir dan mempergunakan
hatinya untuk mencapai hidayah Allah. Salah satu kisah yang terdapat
dalam al-Quran adalah kisah pertemuan antara nabi Musa As dengan Nabi
Khidir As.
Kisah ini berawal ketika Nabi Musa As. mengajarkan berbagai ilmu kepada
Bani Israil dimana mereka sangat kagum dengan keluasan ilmunya. Saat itu
 ada yang bertanya kepadanya: “Wahai Nabi Allah, adakah di dunia ini
seseorang yang lebih berilmu daripada engkau?” Nabi Musa menjawab:
“Tidak.”
Sebenarnya jawaban ini tidak salah, karena ia didasari pengetahuan yang
ada pada beliau, sekaligus sebagai dorongan agar mereka semakin senang
menimba ilmu darinya. Akan tetapi Allah segera menegur beliau dan
mengabarkannya bahwa masih ada seorang hamba-Nya yang ilmunya lebih
banyak dari nabi Musa As. Ia tinggal di daerah pertemuan dua laut.
Dalam al-Quran surat Al-Kahfi ayat: 60-82 telah dijelaskan sebagai
berikut :
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada (muridnya): “Aku tidak akan
berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau
aku akan berjalan sampai bertahun-tahun. Maka tatkala mereka sampai ke
pertemuan dua buah laut itu, mereka lupa akan ikannya, lalu ikan itu
melompat mengambil jalannya ke laut itu. Maka tatkala mereka berjalan
lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: “Bawalah ke mari makanan
kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.”
Muridnya menjawab: “Tahukah anda tatkala kita mencari tempat berlindung
di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu
 dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali
syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh
sekali.” Musa berkata: “Itulah (tempat) yang kita cari”. Lalu keduanya
kembali, mengikuti jejak mereka semula.
Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami,
yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah
Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepada Khidhr:
“Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang
benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu.”
Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar
bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum
mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu.”
Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang
sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun.” Dia
berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku
 tetang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.”
Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu
Khidhir melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu
yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu
telah berbuat kesalahan yang besar.”
Dia (Khidhir) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu
sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.” Musa berkata:
“Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu
membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.”
Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan
seorang anak, maka Khidhir membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu
bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain
Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar.”
Khidhir berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya
kamu tidak akan dapat sabar bersamaku.” Musa berkata: “Jika aku bertanya
 kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu
memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan
 uzur kepadaku.”
Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk
suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi
penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya
mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka
Khidhir menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya
 kamu mengambil upah untuk itu.”
Khidhir berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; Aku akan
memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat
 sabar terhadapnya.”
Adapun bahtera itu kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut,
dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada
seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.
Dan adapun anak itu, maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mu’min,
dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada
 kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka
mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari
anak itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).”
Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota
itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang
 ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya
 mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu,
sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut
kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang
kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (QS. al-Kahfi: 60-82).

Meneladani Kisah Nabi Musa dan Khidir :
Pertama, makna kesabaran, kedua, etika/adab mencari ilmu dan ketiga,
pasrah akan perintah Allah.
1. Kata-kata nabi Musa As: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum
sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai
bertahun-tahun.” Memiliki pelajaran: Keteguhan Nabi Musa untuk menambah
ilmu demi keselamatan dunia akhirat. Oleh karena itu, beliau mencari
orang yang dapat mengobati kehausannya akan ilmu. Hal ini mengajarkan
kepada kita, bahwa orang yang ingfin mendapatkan ilmu haruslah keluar
dari tempatnya dan mencari dimana sang guru berada dan bukan sebaliknya.
 Oleh karena itu, Nabi Musa rela melakukan perjalanan yang sangat jauh
untuk menuntut ilmu dan merasakan keletihan. Beliau lebih suka
meninggalkan Bani Israil agar nantinya dapat mengajar dan membimbing
mereka, dan memilih berangkat mencari tambahan ilmu.
2. Firman Allah yang berbunyi: “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba
 di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat
dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi
Kami,” menjelaskan bahwa ilmu yang diajarkan kepada para hamba-Nya ada
dua jenis:
Pertama, ilmu yang diperoleh dengan usaha insani (kasbi) secara
bersungguh-sungguh. Kedua, ilmu yang dihasilkan secara langsung oleh
Allah tanpa proses insani terlalu panjang. Ia disebut dengan
ilham/laduni atau wahyu. Ia dianugerahkan Allah hanya kepada orang-orang
 saleh yangdikehendaki-Nya.
3. Ayat yang berbunyi: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan
 kepadaku ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” menunjukkan cara
mempunyai adab sopan santun dan bersikap lemah lembut terhadap guru atau
 pendidik, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Musa dimana beliau
menggunakan tutur kata yang sangat santun dan seakan-akan sedang meminta
 pendapat.
Selain itu, ayat di atas juga menjelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat
adalah yang dapat membawa pemiliknya kepada kebaikan. Sedangkan ilmu
yang tidak seperti itu, boleh jadi hanya akan menimbulkan madharat atau
tidak membawa kebaikan. Inilah yang diisyaratkan dalam ayat tadi:
“Supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu-ilmu yang telah diajarkan
kepadamu.”
4. Ayat: “Dan bagaimana kamu dapat bersabar terhadap sesuatu yang kamu
belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu.” Mengajarkan
kepada kita, bahwa seseorang yang tidak sanggup bersabar dalam menyertai
 guru atau pendidiknya, atau tidak memiliki kekuatan untuk tetap teguh
dalam menempuh jalan mencari ilmu, maka dia bukanlah termasuk orang yang
 dikatakan pantas untuk menerima ilmu.
5. Ayat yang bebunyi: “Insya Allah engkau akan dapati aku sebagai
seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu
urusanpun.” Mengajarkan kepada kita agar selalu berhati-hati dan teliti
serta tidak terburu-buru menghukumi suatu permasalahan sampai yang
diinginkan atau yang dimaksud benar-benar jelas. Selain itu, ia juga
menjelaskan bahwa jika seorang pendidik melihat adanya kebaikan dengan
menerangkan kepada muridnya agar tidak bertanya tentang suatu
permasalahan hingga dia (pendidik itu) sendiri yang menerangkan masalah
itu kepadanya (maka hendaknya dia lakukan). Dan sesungguhnya
kemaslahatan itu senantiasa mengikuti. Sebagaimana halnya bila seorang
murid mempunyai pemahaman kurang sempurna, hendaknya guru melarang
muridnya memberatkan diri untuk meneliti suatu permasalahan sedemikian
rupa dan bertanya tentang persoalan yang tidak ada kaitannya dengan
topik yang diajarkan.
6. Penegakkan hukum berlaku secara lahiriah. Hal ini terlihat dalam
tindakan nabi Musa As. yang memprotes Nabi Khidir, karena dalam
pandnagan Nabi Musa, bahwa yang dilakukannya adalah kesalahan.

Makalah akhlak

MAKALAH
IKHLAS DAN RIYA’
Disusun untuk memenuhi tugas ilmu akhlak semester 1
Dosen Pengampu : Abdul Basith, S.S.,M.Pd.



Disusun Oleh:
1. Khoirun Nisa’ F.R. (2022112016)
2. Elsa Mulyani   (2022112018)
3. Nur Afifah   (2022112020)
4. Hermawan S   (2022112035)



SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
PEKALONGAN
2012
KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan segala rahmat dan hidayah-Nya. Sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah yang berjudul “ Ikhlas dan Riya’ ”. Tak lupa penulis limpahkan shalawat dan salam kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang kita nantikan syafaatnya di hari kiamat nanti.
 Pada kesempatan kali ini,penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini :
1. Bapak Abdul Basith,S.S,M.Pd. selaku dosen pengampu ilmu akhlak.
2. Teman-teman semua atas bantuan dan motivasinya
Semoga Allah SWT membalas kebaikan semua pihak yang telah membantu hingga selesainya penulisan makalah ini.
 Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari kesempurnaan,dari segi bahasa, sistematika apalagi isinya. Oleh karena itu penulis dengan hati yang lapang menerima saran dan kritikan yang sifatnya membangun.
 Akhirnya, penulis berharap semoga makalah ini akan memberikan manfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya.

 Pekalongan, Desember 2012


 PENULIS

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
BAB I PENDAHULUAN 4
BAB II PEMBAHASAN 6
1. IKHLAS 6
2. RIYA’ 8
BAB III PENUTUP 12
A. KESIMPULAN 12
B. SARAN 12
DAFTAR PUSTAKA 13


BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Akhlak berasal dari kata “akhlaq” yang merupakan jama’ dari “khulqu” dari bahasa Arab yang artinya perangai, budi, tabiat dan adab. Akhlak itu terbagi dua yaitu Akhlak yang Mulia atau Akhlak yang Terpuji (Al-Akhlakul Mahmudah) dan Akhlak yang Buruk atau Akhlak yang Tercela (Al-Ahklakul Mazmumah).
Akhlak yang mulia, menurut Imam Ghazali ada 4 perkara; yaitu bijaksana, memelihara diri dari sesuatu yang tidak baik, keberanian (menundukkan kekuatan hawa nafsu) dan bersifat adil. Jelasnya, ia merangkumi sifat-sifat seperti berbakti pada keluarga dan negara, hidup bermasyarakat dan bersilaturahim, berani mempertahankan agama, senantiasa bersyukur dan berterima kasih, sabar dan rida dengan kesengsaraan, berbicara benar dan sebagainya.
Masyarakat dan bangsa yang memiliki akhlak mulia adalah penggerak ke arah pembinaan tamadun dan kejayaan yang diridai oleh Allah Subhanahu Wataala. Seperti kata pepatah seorang penyair Mesir, Syauqi Bei: "Hanya saja bangsa itu kekal selama berakhlak. Bila akhlaknya telah lenyap, maka lenyap pulalah bangsa itu".  
Akhlak yang mulia yaitu akhlak yang diridai oleh Allah SWT, akhlak yang baik itu dapat diwujudkan dengan mendekatkan diri kita kepada Allah yaitu dengan mematuhi segala perintahnya dan meninggalkan semua larangannya, mengikuti ajaran-ajaran dari sunnah Rasulullah, mencegah diri kita untuk mendekati yang ma’ruf dan menjauhi yang munkar, seperti firman Allah dalam surat Al-Imran 110 yang artinya “Kamu adalah umat yang terbaik untuk manusia, menuju kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar dan beriman kepada Allah”
Akhlak yang buruk itu berasal dari penyakit hati yang keji seperti iri hati, ujub, dengki, sombong, nifaq (munafik), hasud, suudzaan (berprasangka buruk), dan penyakit-penyakit hati yang lainnya, akhlak yang buruk dapat mengakibatkan berbagai macam kerusakan baik bagi orang itu sendiri, orang lain yang di sekitarnya maupun kerusakan lingkungan sekitarnya sebagai contohnya yakni kegagalan dalam membentuk masyarakat yang berakhlak mulia samalah seperti mengakibatkan kehancuran pada bumi ini
2. Rumusan Masalah
a. Apakah pengertian ikhlas?
b. Apakah pengertian riya’?
c. Bagaimana bahaya riya’?
d. Bagaimana cara menghindari sifat riya’?

3. Tujuan
Supaya kita semua mengetahui sifat tercela dan terpuji serta sikap dan perilaku dalam menghadapinya.

BAB II
PEMBAHASAN
1. IKHLAS
Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.
Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.
Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan beras (nampi beras) dari kerikil-kerikil dan batu-batu kecil di sekitar beras. Maka, beras yang dimasak menjadi nikmat dimakan. Tetapi jika beras itu masih kotor, ketika nasi dikunyah akan tergigit kerikil dan batu kecil. Demikianlah keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya akan menyebabkan amal tidak nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa.
Karena itu, bagi seorang dai makna ikhlas adalah ketika ia mengarahkan seluruh perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya untuk Allah, mengharap ridha-Nya, dan kebaikan pahala-Nya tanpa melihat pada kekayaan dunia, tampilan, kedudukan, sebutan, kemajuan atau kemunduran. Dengan demikian si dai menjadi tentara fikrah dan akidah, bukan tentara dunia dan kepentingan. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku.” Dai yang berkarakter seperti itulah yang punya semboyan ‘Allahu Ghayaatunaa‘, Allah tujuan kami, dalam segala aktivitas mengisi hidupnya.

Ikhlas hakekatnya adalah rahasia antara kita dengan Allah SWT. Menujukan seluruh amal Amar Ma’ruf Nahi Munkar Lillaahita’ala
Tanda orang yang ikhlas dalam beramal adalah tidak ingin amalannya dipuji oleh orang lain. Allah SWT telah berfirman dalam Al-quran:

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

artinya: "Mereka hanya diperintahkan untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan agama kepadaNya." (Al Bayyinah: 5)

Amal yang sedikit tapi ikhlas lebih baik daripada amal yang banyak tapi disertai riya’ / tidak ikhlas kepada Allah, sebab amal yang sedikit tetapi ikhlas itu akan dilipatgandakan oleh Allah atas kemurahanNya seperti dalam Firman Allah :

إِنَّ اللَّهَ لا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

artinya: ‘Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesaar zarrah. Dan jika ada kebajikan (sekecil zarrah pun), niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar di sisiNya.” (QS. An Nisa’, 4:40)

Oleh karenanya hendaklah kita selalu memulai setiap amalan dengan niat yang benar, ikhlas semata karena Allah dan mengharapkan keridhaan dan pahala hanya dari Allah SWT. Sabda Rasulullah SAW : “Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu (tergantung) dengan niatnya, dan seseorang itu akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”

2. RIYA’
a) Pengertian Riya’
Riya’ adalah seseorang beramal shalih dengan maksud untuk dilihat/dipuji oleh orang lain. Orang Muslim tidak riya’, karena riya’ adalah kemunafikan dan syirik. Orang Muslim itu beriman dan bertauhid. Jadi imannya dan taudidnya itu bertentangan dengan akhlak riya’ dan munafik. Ia tidakpernah sekalipun menjadiorang munafik dan melakukan riya’. Ia membenci sifat tercela riya’ dan munafik karena ia mengetahui bahwa Allah Ta’ala dan Rasul-Nya membenci sifat tersebut. Allah Ta’ala mengancam orang-orang yang melakukan riya’ dengan siksa yang pedih, dengan firman Allah SWT yang artinya “Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang yang berbuat riya’. Dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS. Al-Ma’un : 4-7)
Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi, yang artinya “Barang siapa mengerjakan suatu perbuatan dimana di dalamnya ia menyekutukan Aku dengan yang selain Aku, maka ia sepenuhnya menjadi milik sekutunya, dan Aku terlepas daripadanya. Aku paling kaya dari persekutuan.” (Diriwayatkan Muslim)
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan pada kalian ialah syirik kecil.. “Para sahabat bertanya, ‘apa yang dimaksud syirik kecil wahai Rasulullah?” Rasululllah Shallallahu Alaihi wa Sallam besabda, “Riya’. Allah Azza wa Jalla berfirman pada hari kiamat setelah membalas para hamba dengan amal perbuatan mereka, ‘ Pergilah kalian (orang-orang yang melakukan riya’) kepada orang-orang yang kalian melakukan riya’ karena mereka di dunia, kemudian lihatlah apakah kalian mendapatkan  balasan dari mereka’. “ (Diriwayatkan Ahmad Ath-Thabrani, dan Al-Baihaqi. Az-Zain Al-Iraqi berkata “Perawi hadits ini dapat dipercaya “)
Hakikat  riya’ ialah seorang  hamba taat kepada Allah Ta’ala dengan tujuan sampingan yaitu ingin mendapatkan kedudukan di hati manusia.
b) Bentuk – bentuk Riya’
1. seorang hamba meningkatkan ketaatannya kepada Allah Ta’ala jika dipuji, dan ketaatannya berkurang atau habis sama sekali jika ia dicela.
2. Rajin beribadah jika bersama manusia, dan malas beribadah jika sendirian.
3. Bersedekah. Jika sedekahnya tidak dilihat manusia, ia pasti tidak bersedekah.
4. Seorang mengatakan kebaikan atau mengerjakan kebaikan, namun ia tidak menginginkannya untuk Allah Ta’ala semata, dan menginginkannya untuk manusia disampinng Allah Ta’ala, atau  tidak menginginkan-Nya sama sekali, dan menginginkannya untuk manusia semata.

c) Sebab Timbulnya Riya’
Riya’ ditimbulkan oleh beberapa faktor sebagai berikut:
• Senang karena lezatnya pujian orang lain.
• Lari dari celaan.
• Rakus akan apa yang diperoleh/terdapat pada orang lain.
d) Sebab Bahayanya Riya’
• Lebih berbahaya dari fitnah Dajjal.
• Riya’ menjadi sebab azab di Neraka.
• Riya’ adalah cirri perbuatan orang-orang Munafiq.


e) Macam-macam Riya’
1. Seorang hamba dalam beribadah menginginkan selain Allah. Dia senang orang lain tahu/melihat apa yang diperbuatnya. Dia tidak menunjukkan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah dan ini termasuk jenis nifaq.
2. Seorang hamba beribadah dengan tujuan dan keinginannya ikhlas karena Allah, namun ketika manusia melihat ibadahnya maka ia bertambah giat dalam beribadah serta membaguskan ibadahnya. Ini termasuk perbuatan syirik tersembunyi.
3. Seorang hamba beribadah pada awalnya ikhlas karena Allah dan sampai selesai keadaannya masih demikian, namun pada akhir ibadahnya dipuji oleh manusia dan ia merasa bangga dengan pujian manusia tersebut serta ia mendapatkan apa yang diinginkannya (dunia, missal: dengan memperoleh kedudukan di masyarakat dll).
4. Riya’ badaniyah, yaitu perbuatan riya’ dengan menampakkan badan/jasadnya kurus karena banyaknya ibadah sehingga ia disebut sebagai orang ABID (Ahli Ibadah).
5. Riya’ dari sisi penampilan atau model. Seperti orang yang berpenampilan compang-camping agar ia dilihat seperti orang yang berlaku/berbuat zuhud
6. Riya’ pada ucapan, misal orang yang memberat-beratkan suaranya.
7. Riya’ dengan amalan.
8. Riya’ dengan teman dan orang-orang yang mengunjunginya. Misal: Teman-teman/orang-orang yang mengunjunginya adalah para ustadz/ulama, maka ia menjadi bangga dan mengharap pujian dari hal tersebut.
9. Riya’ dengan mencela dirinya dihadapan manusia.
10. Seorang beramal dengan amal ketaatan dan tidak seorangpun mengetahuinya, ia tidak ingin tenar. Akan tetapi jika ia dilihat manusia, ia menginginkan diawali/dihormati dengan pengucapan salam.
11. Menjadikan perbuatan ikhlasnya itu sebagai wasilah terhadap apa yang dia inginkan.

f) Solusi Agar Terhindar Dari Riya’
Diantara solusi agar kita terhindar dari perbuatan riya’ adalah sbb:
• Mengetahui jenis-jenis amalan yang diperuntukkan untuk dunia dan      mengetahui jenis-jenis riya’ serta factor-faktor pendorong perbuatan riya’
• Mengetahui keagungan Allah Azza wa Jalla.
• Mengenal/mengetahui apa yang telah Allah persiapkan untuk akhir kehidupan.
• Takut dari beramal untuk kepentingan dunia.













BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

1. Ikhlas hakekatnya adalah rahasia antara kita dengan Allah SWT. Menujukan seluruh amal Amar Ma’ruf Nahi Munkar Lillaahita’ala
Tanda orang yang ikhlas dalam beramal adalah tidak ingin amalannya dipuji oleh orang lain.
2. Hakikat  riya’ ialah seorang  hamba taat kepada Allah Ta’ala dengan tujuan sampingan yaitu ingin mendapatkan kedudukan di hati manusia

B. SARAN

Dengan mengetahui berbagai halmengenai baik buruknya suatu akhlak diharapkan kita bisa introspeksi ke arah yang lebih baik .

DAFTAR PUSTAKA

Ilyas, Yunahar.,Kuliah Akhlaq, Pustaka Pelajar Offset: Yogyakarta, 2004
Qasim, Abul dkk., Risalah Qusyairiyah, Pustaka Amani: Jakarta, 2007
Al-Jazairi, Abu Bakar Jabir.,Ensiklopedi Muslim Minhajul Muslim, Darul Falah: Jakarta Timur, 2001
http://ibnusarijan.blogspot.com/2011/12/riya-definisi-sebab-macam-serta.html
http://www.dakwatuna.com/2008/05/582/tiga-ciri-orang-ikhlas/#ixzz1cTb4c12E